Orang-orang acap kali memandang dunia sebagai tempat yang tak adil. Dimana si miskin tak boleh sakit. Hukum dapat dibeli. Pencuri ayam dipenjara 5 tahun. Koruptor hukumannya dipotong, masa tahanannya. Yang kaya semakin kaya lalu yang miskin tetap miskin. Pemilu dijadikan ladang pegharapan sejak dulu, percaya bahwa jika memilih pemimpin yang benar negeri ini akan menjadi lebih baik. Kita memang tak tau apakah itu benar atau salah. Namun, apa salahnya mencoba? Bukankah kita pun tetap hidup di dunia ini meski tau pada akhirnya akan mati? Saat pengharapan tersebut pupus atau mati saat dimakan waktu, akankah kepercayaan masih ada? Faktanya kini sudah banyak orang (sepenglihatanku) yang tak peduli mengenai siapa pemimpin saat ini, apa guna bila tak merubah? Ada pula golongan orang-orang yang masih memiliki keyakinan dan percaya bahwa suatu saat nanti akan ada orang yang memimpin negeri ini menjadi lebih baik. Lepas dari stereotip tersebut, aku salah satu orang yang berada pada pert...
Aku terhanyut dalam sepi Tak tau apa yang diratapi Tak peduli akan apa yang dihadapi Serasa terbakar dalam api Merindu suara kecapi Yang dimainkan di sudut kereta api Pada hari rabu Yang serasa kelabu Aku terjelembu Ke dalam kebimbangan yang sendu Di saat bintang-bintang terjatuh Mengharap bahwa sepi tak jadi pilu Aku pernah terbang ke langit Lalu bertemu dengan perasaan kecewa Yang dulu pernah kuhempaskan Ia menendangku Mengembalikanku ke bumi Mengatai bahwa Aku tidak pantas Lagi-lagi bertemu senja Ia mewarnai langit seperti kulit jeruk Aku termangu melihat kuasa-Nya Angin sore mengingatkanku Tak ada tempat kembali selain Dia Pulang