Langsung ke konten utama

Postingan

Realitas Negeriku

Orang-orang acap kali memandang dunia sebagai tempat yang tak adil. Dimana si miskin tak boleh sakit. Hukum dapat dibeli. Pencuri ayam dipenjara 5 tahun. Koruptor hukumannya dipotong, masa tahanannya. Yang kaya semakin kaya lalu yang miskin tetap miskin. Pemilu dijadikan ladang pegharapan sejak dulu, percaya bahwa jika memilih pemimpin yang benar negeri ini akan menjadi lebih baik. Kita memang tak tau apakah itu benar atau salah. Namun, apa salahnya mencoba? Bukankah kita pun tetap hidup di dunia ini meski tau pada akhirnya akan mati? Saat pengharapan tersebut pupus atau mati saat dimakan waktu, akankah kepercayaan masih ada? Faktanya kini sudah banyak orang (sepenglihatanku) yang tak peduli mengenai siapa pemimpin saat ini, apa guna bila tak merubah? Ada pula golongan orang-orang yang masih memiliki keyakinan dan percaya bahwa suatu saat nanti akan ada orang yang memimpin negeri ini menjadi lebih baik. Lepas dari stereotip tersebut, aku salah satu orang yang berada pada pert...
Postingan terbaru

Lamunan Sajak

 Aku terhanyut dalam sepi Tak tau apa yang diratapi Tak peduli akan apa yang dihadapi Serasa terbakar dalam api Merindu suara kecapi Yang dimainkan di sudut kereta api Pada hari rabu Yang serasa kelabu Aku terjelembu Ke dalam kebimbangan yang sendu Di saat bintang-bintang terjatuh Mengharap bahwa sepi tak jadi pilu Aku pernah terbang ke langit Lalu bertemu dengan perasaan kecewa Yang dulu pernah kuhempaskan Ia menendangku Mengembalikanku ke bumi Mengatai bahwa Aku tidak pantas  Lagi-lagi bertemu senja Ia mewarnai langit seperti kulit jeruk Aku termangu melihat kuasa-Nya Angin sore mengingatkanku Tak ada tempat kembali selain Dia Pulang

Bukan tentangmu

Dulu senja begitu sering kutemui  Ia suka kutemui bersamaan dengan hujan Perpaduan langit yang berwarna orange dengan suara rintik hujan Aroma hujan itu masih kurindukan Bersamaan dengan suara kayuhan sepedamu di tengah hujan Aku mengingatnya  Masa penuh perjuangan itu Yang terasa pilu Namun mengingatnya jadi rindu Lalu berbuah sendu Dulu saja suka mengeluh Berkata jangan begini jangan begitu Sekarang apa yang mampu dikata? Tak ada hari yang lalu Yang dulu memang telah berlalu Senja yang kulalui kini Berbeda rasa dengan dulu Dulu ditemani hujan Kini aku hanya ditemani rindu Tentang chapter yang telah lama tertutup itu  

Titik awal

Kembali ke titik awal, saat pertama kali Aku mulai membuka jendelaku. Sejak saat itu, kali pertama saat aku mencoba mengurangi frekuensi keintrovertanku semuanya terasa mulai berubah. Hari yang biasanya berwarna putih dan abu itu perlahan mulai memperlihatkan warnanya. Pertama kali aku mendapatkan seorang sahabat cowok di smp.  Aku mulai memandang dunia ini berbeda. Dunia ini tak seabu-abu yang kurasakan. Hubungan terjalin bukan karena pandangan yang sama. Hubungan dapat terjalin ketika semua pandangan berbeda itu bisa diterima dan ditoleransi. Bukannya memaksakan seseorang untuk memandang sesuatu dengan cara yang sama. Sebagai seseorang yang tertutup tentu bukan hal mudah untuk dapat berbaur cepat dilingkungan baru.  Di smp pun aku tak punya banyak teman yang betul-betul mengenalku, meski satu angkatan mengenalku. Di titik awal ini aku mengenal Dia dan apa itu cinta.