Langsung ke konten utama

Realitas Negeriku




Orang-orang acap kali memandang dunia sebagai tempat yang tak adil. Dimana si miskin tak boleh sakit. Hukum dapat dibeli. Pencuri ayam dipenjara 5 tahun. Koruptor hukumannya dipotong, masa tahanannya. Yang kaya semakin kaya lalu yang miskin tetap miskin. Pemilu dijadikan ladang pegharapan sejak dulu, percaya bahwa jika memilih pemimpin yang benar negeri ini akan menjadi lebih baik. Kita memang tak tau apakah itu benar atau salah. Namun, apa salahnya mencoba? Bukankah kita pun tetap hidup di dunia ini meski tau pada akhirnya akan mati? Saat pengharapan tersebut pupus atau mati saat dimakan waktu, akankah kepercayaan masih ada? Faktanya kini sudah banyak orang (sepenglihatanku) yang tak peduli mengenai siapa pemimpin saat ini, apa guna bila tak merubah? Ada pula golongan orang-orang yang masih memiliki keyakinan dan percaya bahwa suatu saat nanti akan ada orang yang memimpin negeri ini menjadi lebih baik.

Lepas dari stereotip tersebut, aku salah satu orang yang berada pada pertengahan statement tersebut. Apakah millenial saat ini masih peduli tentang realitas yang akan dihadapi negeri ini pada pemilu yang akan datang? Aku harap iya. Meski setiap orang memiliki pendapat masing-masing tentang siapa calon mereka, aku merasa lebih baik ketimbang mereka tidak peduli atau bahkan hanya asal memilih saja. Janji-janji paslon menjadi salah satu hal yang menarik perhatianku. Ada beberapa janji dan resolusi yang dipaparkan oleh para paslon dalam debat yang menurutku rada cringe. Saat ini aku memang belum bisa memilih karena aku belum genap berusia 17 tahun. Aku harap teman-teman sekalian juga menonton debat. Diluar dugaan ternyata teman-teman di kelasku menonton debat. Aku bersyukur masih ada teman-teman di kelas yang peduli tentang nasib negeri ini kedepannya.  Apakah kalian menonton? Bagiku debat kali ini menarik, meski menurut Najwa Shihab debat pilpres pertama ini hambar. Hal yang menjadikannya menarik bagiku adalah format debatnya, kisi-kisi sudah diberikan, pertanyaan masih disegel namun jawaban sudah ada, pertanyaan yang dilontarkan terkadang yang dijawab berbeda, realitas yang dipaparkan pun juga cukup lucu untuk dijadikan bahan guyon ditengah debat panas seperti saat itu. Untuk debat kedua yang aku harap para paslon tidak mendapatkan kisi-kisi. Kemudian dalam memberikan feedback juga jangan berpaku pada teks yang sudah tersedia, lantaran ini pemilihan Presiden. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang cakap dalam menghadapi masalah bukan?

Komentar